Ibadah Sepenuh Hati | RBI

Jumat, 22 Juni 2018 Site Map cart RBI

 

Beranda > Sinopsis

Ibadah Sepenuh Hati | RBI

Harga:

Rp 49,000

Discount: 20%

Rp: 39,200

Anda Hemat:

Rp 9,800

 

Ibadah Sepenuh Hati

oleh Amru Khalid

Ibadah itu nikmat! Itulah kata singkat yang mungkin bisa mewakili perasaan Rasulullah Shallallahu 'Alahi wa Sallam dan para sahabatnya, ketika beliau memerintahkan Bilal bin Rabbah “Wahai Bilal, hiburlah kami dengan Shalat” (Al-Hadits)

Betapa tidak, bukankah dalam lantunan surat Al-Fatihah, terjadi dialog syahdu antara seorang hamba dengan Rabbnya. Di kegelapan malam yang hening, terjadi perjumpaan antara seorang hamba-yang rela memutus nikmat tidur demi ibadah-, dengan Penguasa alam semesta. Sang Penguasa, pemilik Arsy, yang sengaja turun ke langit dunia untuk memberi setiap hamba yang meminta; mengabulkan mereka yang berdoa; dan mengampuni siapa saja yang bertaubat. Sungguh, sebuah kenikmatan spiritual yang mengesankan!

Namun, seringkali buah manis spiritual itu gagal diraih, hanya karena kita terjebak pada rutinitas belaka. Shalat, misalnya, dianggap sebagai kegiatan yang sekadar menggugurkan kewajiban. Yang terjadi kemudian adalah kegiatan ibadah yang tanpa ruh –sebuah kegiatan fisik tanpa disertai oleh partisipasi hati- Padahal, hati adalah titik sentral yang menentukan kualitas ibadah. Shalat tanpa khusyuk, sia-sia. Sedekah tanpa ikhlas pun tak berguna.

Memang benar, jika dikatakan bahwa ibadah itu unik. Tak sebagaimana aktivitas duniawi, ia membutuhkan partisipasi dua obyek; gerakan anggota badan dan keserasian aliran darah yang diatur oleh jantung –yang mencerminkan keserasian koordinasi aspek kesadaran dan ketidak sadaran manusia- (biasa dikenal dengan keselarasan antara tubuh dan hati.) Sebutlah shalat sebagai contoh. Meski telah menunaikan lima waktu dalam sehari, shalat belum dikatakan sempurna apabila tak disertai “kehadiran” hati –sebuah kondisi jiwa, yang dalam kamus Islam dikenal dengan nama khusyu’-. Lalu, apa artinya sujud dan rukuk –bila tidak disertai “kehadiran” hati?

Di sinilah letak keunikan tadi. Ada parameter multi dimensi dalam pelaksanaan ibadah. Maksudnya, nilai sejati suatu ibadah tidak dinilai dari semata-mata aktivitas fisik saja. Parameter “hati” sebagaimana disinggung dimuka, merupakan wujud lain dari “keberesan” hubungan seorang hamba dengan Rabbnya. Sebuah parameter maya, namun justru merupakan ruh dari ibadah itu sendiri. Kekhusyukan dalam shalat, keikhlasan dalam berinfak dan dalam ibadah-ibadah lain, adalah indikasi dari nilai “kehadiran” hati tersebut.

Yang membuat kita pantas khawatir adalah; justru pada titik ruh ibadah inilah kita sering kecolongan. Kita sering tertipu dengan aktivitas fisik semata. Walhasil, kita pun sering terjebak pada rutinitas ibadah tanpa ruh! Padahal apa arti shalat tanpa khusyuk? Apa arti sedekah tanpa keikhlasan? Apa arti haji tanpa ada ketundukan dan kepasrahan?

Di ceruk inilah Amru Khalid hadir menemani kita, sekaligus mengajak kita untuk tak lagi terjebak dalam rutinitas hampa ibadah. Buku ini penuh dengan sentuhan-sentuhan penyadaran yang menggugah. Dengan dominasi bahasa dialogis, penulis yang menempuh program Doktoral di Universitas Wales, Inggris ini mengajak kita untuk menyelami keindahan dan kenikmatan ibadah.

Seakan mencoba menggugah kembali kesadaran kita, bahwa dengan disertai ‘kehadiran’ hati, ibadah –sebenarnya- adalah nikmat spiritual bukan beban fisik. Penulis mengurai sisi keindahan ibadah, disertai tips-tips tertentu untuk menghadirkan hati, agar ibadah lebih bermakna, dengan bahasa dialogis dan tutur yang renyah.

Kelebihan buku ini terletak pada sapaan, uraian dan sentilan-sentilan yang disajikan penulis. Selain bertabur dalil-dalil, baik dari Al-Qur’an maupun hadits shahih, juga menyentuh sisi aktual berkaitan dengan ibadah kita pada hari ini termasuk sekian tips yang menuntun kita meraih keberhasilan ibadah.

Berbeda dengan buku-buku yang memiliki bahasan yang sama. Dengan kelebihan tersebut, buku ini cukup bebas dari analogi-analogi yang tidak pas dan tidak terjebak pada dunia metafisis khayali. Hal yang sering menyebabkan buku-buku bertema serupa terjebak dalam genre teosofisme (tasawuf) dan membuat kebablasan dalam beribadah. Karenanya, yang lebih tepat adalah menggolongkan buku ini ke dalam aliran panduan manajemen hati (qalbu). Ya, manajemen Qalbu ala Mesir.

Pun, disamping sebagai sebuah penyegaran bagi mereka yang rutin beribadah, dalam buku ini penulis juga hadir sebagai karib bagi mereka yang lalai. Sahabat yang ramah, santun dan tetap mengpricei bagi mereka yagn dilalaikan oleh setan, sambil terus berusaha menggugah kesadaran beribadah. Dus, inilah buku multi motivasi. Selamat membaca!

ISBN: 979-3653-18-3

Dimensi: 15 x 23 cm

Sampul: Soft Cover

Penerbit: Aqwam

Share |

Komentar Anda..

DISCOUNT BUKU 30%? Klik di sini

Buku-buku lainnya...

Meneladani Akhlak Nabi | RBI

Meneladani Akhlak Nabi

Imam Abu Syaikh

Rp 83,000   Rp 66,400

Meneladani Akhlak Generasi Terbaik | RBI

Meneladani Akhlak Generasi Terbaik

Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil

Rp 26,000   Rp 20,800

Mendulang Faedah dari Kalimat Nubuwwah | RBI

Mendulang Faedah dari Kalimat Nubuwwah

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di

Rp 60,000   Rp 51,000

Mendidik Generasi Ala Shahabat Nabi SAW | RBI

Mendidik Generasi Ala Shahabat Nabi SAW

Shalih bin Huwaidi Alu Husain

Rp 65,000   Rp 52,000

Mendidik dengan Cinta | RBI

Mendidik dengan Cinta

Irawati Istadi

Rp 68,000   Rp 54,400

Mendidik Anak Perempuan, Dari Buaian HIngga Pelaminan | RBI

Mendidik Anak Perempuan, Dari Buaian HIngga Pelaminan

Ishlahunnisa'

Rp 32,000   Rp 25,600

Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan | RBI

Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan

Mohammad Fauzil Adhim

Rp 68,000   Rp 54,400

Mencari Calon Istri | RBI

Mencari Calon Istri

Amardani

Rp 25,000   Rp 21,250

Mencapai Shalat Khusyuk | RBI

Mencapai Shalat Khusyuk

Syaikh Mu'min Al-Haddad

Rp 98,000   Rp 78,400